Sabtu, 21 Maret 2009

mana yang penting?

image dianggap penting.
sekuat tenaga diperjuangkan,
agar dapat menjaga image,
yang disandangkan dengan nama besar
HARGA DIRI

teringat dengan cerita yang pernah ada
tentang munculnya istilah
NEW WORLD

tentang munculnya pemikiran
dari Soekarno tentang PENJAJAHAN BARU
di masa orde lama.
negara-negara kecil dikontrol sedemikian rupa,
sehingga kehidupannya bergantung pada
sang penyuntik dana.

dan muncullah solusi
YANG DIANGGAP cerdas
yaitu gagasan tentang new world

MENOLAK SEGALA BANTUAN, YANG PENTING HARGA DIRI

begitu katanya.

kemudian disusul dengan munculnya
NON BLOK

dan entah kenapa non blok diwujudkan dengan
kunjungan aneh,
ke dua negara yang terlibat PERANG DINGIN

tak tahu maksud sebenarnya apa
mungkin pembenarannya adalah menjaga hubungan baik.
tapi entah kenapa
menurut saya ini tindakan BODOH
jelas terlihat dari dampak yang ditimbulkan

mengaku NON BLOK, menjajal ke sana ke mari, membuat kedua negara itu bingung, dan pada akhirnya tidak ada yang menanggapi kunjungan itu.

dan kita benar-benar sampai ke satu titik yang diimpikan.
NON BLOK
tidak berpihak, mandiri
dan benar,
kita memang mandiri.

mandiri dalam kemiskinan.

hanya ingin berkaca,
apa yang lebih penting?

kelaparan untuk harga diri, atau harga diri untuk kelaparan?

ps : sadari benar, siapa musuhmu?

thank’s to ”SHADOW PLAY”

3 komentar:

  1. hoy.
    eh tapi kata mu di 'kamu kerbau?' harga diri terlalu tinggi utk kerbau...

    yg notabene bagi masyarakat desa adalah modal berharga untuk brpndapatan? dan selama si cewe n ortux gak keberatan dikasi kerbau.. kenapa dikau bermasalah?

    dgn kata lain seruan di awal adalah :

    untuk apa kesejahteraan? harga diri number one!


    lalu di post ini,

    untuk apa harga diri dan ideologi? kesejahteraan number one!

    y kn?
    kontradiktif.

    hanya anak ipa nyasar iseng brpndapat..


    bntar lagi UAN nad, semangat!

    BalasHapus
  2. begini yah...menurutku itu tidak dapat digeneralisir seperti itu. tentu hak seseorang untuk hidup dan penghidupan yang layak tetap harus ditempatkan pada posisi yang teratas.

    pada "kamu kerbau?"

    aku pengen bilang bahwa HAK (baca : harga diri) seseorang jauh, bahkan tidak dapat sama sekali tergantikan oleh apapun. APALAGI KERBAU.
    dan maka dari sana, butuh penyadaran sesegera mungkin kepada masyarakat desa, bahwa anak mereka, itu BERHARGA.
    dan masalah kesejahteraan, apa kemudian mereka jadi sejahtera dengan kerbau? hidupnya jadi punya penghidupan yang layak, seperti yang seharusnya? toh jawabanya akan tetap tidak, kalau kapitalisme tetap ada. karena tak ada celah yang diberikan untuk mereka untuk dapat hidup, paling tidak sedikit lebih baik.


    pada tulisan ini,
    coba kamu perhatiin, sebenernya aku juga melihat pada HAK orang banyak. ideologi yang ada, egoisme siapa sih? mereka kan, yang diatas sana. mereka sih enak nggak perlu susah-susah ngantri minyak tanah, nah yang di bawah sini. bisa nggak makan seminggu.


    kesejahteraan tetap yang utama. tapi ini bukan hanya sekedar "kesejahteraan semu" tapi benar-benar kesejahteraan.

    BalasHapus
  3. emang gak bisa di samain.
    tapi logikanya sama.

    dan menurut gua, tetep aja temanya kesejahteraan, tapi ruang lingkupnya beda.

    nah masalah di 'kerbau', kupikir cuma 1 : nilai" yang dipunyai dan dimiliki bapaknya beda ama kita.

    klo gua di posisi dia ya udah kubunuh kali tuh cowo.

    kenapa nilai" itu berbeda?

    mungkin pendidikan.

    dan kenapa pendidikan di desa dan kota tak berimbang?

    maka itu salah NEGARA.

    dan untuk itu saya berseru :


    HAPUS UJIAN NASIONAL !!!

    hahahahaha.

    BalasHapus